Syarat-syarat Tabarru/Hibah asuransi syariah (>)

Syarat-syarat Tabarru/Hibah asuransi syariah (>)

 

 

Selain harus memenuhi ketentuan dalam rukunnya, tabarru atau hibah juga harus memenuhi ketentuan dalam syarat-syarat.

Perbedaan antara rukun dan syarat adalah bahwa hilangnya salah satu rukun akan menghilangkan substansi dari akad tersebut ( batal atau tidaknya sahnya akad). Di sisi lain, apabila syarat tidak terpenuhi akan mengakibatkan “fasid” atau rusaknya akad tersebut meskipun secara substansial akad tersebut masih tetap sah. Adapun syarat-syarat hibah adalah sebagai berikut:

  1. Syarat Wahib (pemberi tabarru/hibah)

Pemberi hibah/tabarru, tidak sah hibah dari  anak kecil, orang tidak waras, dan sebagainya. Non-muslim boleh memberikan hibah kepada Muslim, demikian juga sebaliknya.

  1. Syarat penerima tabarru/hibah

Penerima hibah diperbolehkan siapa saja yang sah untuk menerima pemberian, baik tua/muda, besar/kecil, laki-laki/prempuan, bahkan muslim dan non-muslim.

  1. Syarat dalam Shigat

Diisyaratkan dalam shigat adanya ijab dan qabul, dengan lafaz atau kalimat apa saja yang menunjukan adanya pemberian harta/sesuatu. Sebagian pengikut Madzhab Hanafi mengatakan cukup dengan ijab saja (tanpa qabul) untuk mengadakan akad hibah dan tidak diperlukan untuk keberadaan akad hibah itu sendiri.

Syarat dalam Mauhub (sesuatu yang dihibahkan)

Sesuatu yang dhibahkan harus ada pada saat terjadinya akd hibah

Sesuatu yang dihibahkan/ditabarru’kan harus merupakan sesuatu yang bernilai secara syariah. Tidak diperkenakan menghibahkan sesuatu yang tidak bernilai secara syariah, seperti khamr, berhala dan bangkai.

Sesuatu yang dihibahkan harus merupakan milik si pemberi hibah. Tidak diperbolehkan menghibahkan sesuau yang bukan miliknya.

Sesuatu yang dihibahkan haruslah sesuatu yang diketahui (ma’lum). Seperti jumlah uang, luas tanah dan lokasi atau daerah, kecuali Madzhab Maliki yang memperbolehkan hibah sesuatu yang majhlul, berbeda dalam akad pertukaran.

Sesuatu yang dihibahkan harus bebas dari gharar, misalnya tidak boleh menghibahkan jeruk yang masih kecil-kecil dipohon sebelum jeruk tersebut besar dan matang. Selain itu, tidak boleh menghibahkan ikan di lautan, ternak dalam kandungan ibunya dan sebagainya.

Sesuatu yang dihibahkan bukan merupakan barang/harta milik bersama yang belum terbagi. Namun, harus jelas terlebih dahulu pembagiannya, kemudian setelah itu boleh dihibahkan. Hal ini karena sesuatu yang bersifat kepemilikan bersama, sulit dilakukan serah terimanya. Sementara dalam hibah, disyaratkan adanya serah terima tersebut.

Sesuatu yang dihibahkan harus merupakan sesuatu yang dapat diserahterimakan.

Asuransi syariah

admin