Sediakan asuransi pensiun anda mulai sekarang

Masa pensiun akan tenang, jika anda menyiapkan dana pensiun dengan baik

Asuransi penting karena risiko tidak ada yang tahu

Anda bisa mengontrol kesehatan, tetapi tidak bisa mengontrol kecelakaan

Asuransi itu tidak wajib tetapi sangat penting

Ketika sakit dijamin anda tidak dapat mengambil asuransi

Kecelakaan tidak mengenal waktu dan tempat

Pintarlah mengelola risiko yang datang

Kami menyediakan solusi financial anda

Salah sau solusi financial dengan mengambil asuransi

 

Pedoman Umum Asuransi Syariah (.)

Dalam konteks Indonesia kita bisa melihat Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang ditandatangani oleh ketua umum, K.H.M.A Sahal Mahfudin dan sekertaris umum Prof.Dr.H.M Dien Syamsuddin bahwa pada prinsipnya MUI menolak asuransi konvensional, tetapi menyadari realita dalam masyrakat bahwa asuransi tidak dapat dihindari. Karena itu, pedoman umum asuransi syariah memutuskan sebagai berikut :

Pertama : Kentuan Umum

  1. Asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan saling menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset atau tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapai risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
  2. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin 1 adalah yang tidak mengandung gharar ‘ketidakjelasan’, maisir’perjudian, riba (bunga), zulmu ‘penganiayaan’, riswyah,’suap’, barang haram dan maksiat.
  3. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  4. Akda tabarru adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebaikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  5. Premi adalah kewajiban peserta asuransi untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad.
  6. Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberikan oleh perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

Kedua : Akad dalam asuransi

  1. Akad yang dilakukan antara peserta dan perusahaan terdiri atas akad tijarah dan atau akad tabarru.
  2. Akad tijarah yang dimaksud dalam ayat 1 adalah mudharabah, sedangkan akad tabarru adalah hibah.
  3. Dalam akad, sekurang-kurangnya harus disebutkan :
  4. Hak dan keajiban peserta dan perusahaan
  5. Cara dan waktu pembayaran, serta
  6. Jenis akad tijarah dan atau akad tabarru, serta syarat-syarat yang disepakati sesuai dengan jenis asuransi yang diakadkan.

 

Ketiga : Kedudukan para pihak dalam akad tijarah dan tabarru

  1. Dalam akad tijarah, perusahaan bertindak sebagai mudharab’pengelola’ dan peserta bertindak sebagai shabibul mal ‘pemegang polis’.
  2. Dalam akad tabarru’hibah, peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah. Adapun perusahaan sebagai pengelola danahibah

Keempat : Ketentuan dalam akad tijarah dan tabarru

  1. Jenis akad tijarah dapat diubah menjdi jenis akad tabarru’ jika pihak yang tertahan haknya dengan rela melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya.
  2. Jenis akad tabarru’ tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah.

Kelima : Jenis asuransi dan akadnya

  1. Dipandang dari segi jenis, asuransi itu terdiri atas asuransi kerugian dan asuranasi jiwa.
  2. ADapun akad bagi kedua jenis asuransi tersebut adalah mudharabah dan hibah.

Untuk hal ini, jelaslah bagi kita bahwa asuransi konvensional sama sekali diharamkan, adapun prinsip menggunakan karena dharurat atau hajah tidak bisa diterima disesbabkan hal itu bukan satu-satunya pilihan, disamping juga kini telah banyak berdiri perusahaan asiransi syariah. Keadaan dharurat sendiri terjadi apabilan sesuatu tidak dilakukan, akan menimbulkan kerusakan besar atupun kematian. Dapun dalam hal asuransi, tidak terdapat hal-hal yang demikian.

Maslahnya sekarang apakah puluhan perusaaan asuransi syariah yang berdiri memang telah menerapkan prinsip-prinsip syariah secara murni ? Sikap wara ‘ (kehati hatian) dalam hal ini memang perlu dimiliki oleh setiap muslim karena mungkin saja ada perusahaan syariah yang murni syariah, tetapi ada juga yang kurang murni dalam penerapan prinsip-prinsip syariahnya sehingga masih meragukan disebabkan lebih kentalnya orientasi bisnis dibandingkan kemaslahatan.

Bagaimana seorang muslim bisa mencermati sebuah perusahaan yang murni menerapkan prinsip syariah atau tidak tentu bsia dilakukan dengan jalan mempelajari hak dan kewajiban selaku peserta asuransi syariah. Peerta asuransi syariah harus proaktif mencari tahu berbagai informasi berkaitan dengan produk asuransi syariah dan aktif bertanya dalam penawaran produk asuranasi syariah.

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>