Sediakan asuransi pensiun anda mulai sekarang

Masa pensiun akan tenang, jika anda menyiapkan dana pensiun dengan baik

Asuransi itu tidak wajib tetapi sangat penting

Ketika sakit dijamin anda tidak dapat mengambil asuransi

Kami menyediakan solusi financial anda

Salah sau solusi financial dengan mengambil asuransi

 

Mudharabah Musytakarah Asuransi Syariah (.)

 

Mudharabah mustakarah merupakan salah satu akad yang dapat digunakan dalam asuransi syariah, dewan syariah nasional MUI memfatwakan secara khusus penggunaan akad ini dalam asuransi syariah, yaitu dalam FATWA DSN-MUI No 50/DSN-MUI/III/2006 tentang Mudharabah Musytakarah

Dalam fatwa tersebut, mudharabah musytakarah didefiniskan “Mudharabah musytakarah adalah bentuk akad mudharabah dimana pengelola mudharib) menyertakan modalnya dalam kerja sama investasi tersebut.

Akad musharabah musytakarah merupakan “pengembangan” dari akad mudharabah. Dengan demikian, segala ketentuannya hampir sama dengan akad mudharabah. Jika demikian, apakah perbedaaan antara mudharbah dan mudharabah musytarakah itu ?

Perbedaan antara mudharabah dan mudharabah musytarkah hanyalah terletak pada “kesertaan modal” pad proyek yang dikerjakan.

Dalam akad ini, mudharib (pengusaha) selain berfungsi sebagai pengusaha, ia juga berfungsi sebagai shahibul maal kedua karena turut berkontribusi dalam kepersertaan dana.

Dengan demikian, dalam akad ini terdapat

  1. Shahibul Maal
  2. Mudharib, sekaligus sebagai Shahibul Maal kedua.

Contoh sederhana dari akad mudharabah musytarakah ini adalah terdapat proyek pembangunan rumah dengan modal Rp 80 juta. Kemudian, mudharib menyertakan dana sebesar Rp 20 juta, setelah proyek selesai, terjualah umah tersebut dengan harga Rp 120 juta. Dalam hal ini, sebelum hasilnya dinisbahkan antara shahibul maal dan mudharib, terlebih dahulu keuntungan tersebut dibagi atas dasar kepesertaan dana masing-masing. Sejumlah 20 % milik mudharib/ shahibul ,aal kedua (Rp 4 juta) dan 80 %nya Rp 16 juta) milik bersama, yang kemudian dinisbahkan sesuai dengan kesepakatan mereka berdua (misalnya pembagian 60 : 40).

Dalam asuransi syariah, umumnya akad mudharabah musytarakah digunakan pada produk yang memiliki unsur investasi, seperti pada produk dana pendidikan, dana wakaf, dan dana haji. Bentuk sederhanyanya adalah nasabah berperan sebagai shahibul maal (karena nasabah membayar premi dan premi tersebut di investasikan dalam investasi-investasi syariah)’ sedangkan perusahaan asuransi syariah juga menyertakan dannya untuk di investasikan pada proyek investasi tertentu bersamaan dengan dana nasabah.

Apabila proyek investasi ini mendapatkan keuntungan, pertama dibagi terlebih dahulu hasil investasi tersebut berdasarkan share dana yang di investasikan. Setelah itu, dibagi kembali nisbah keuntungan antara nasabah dan asuransi syariah, berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (contoh 70:30 untuk produk dana pendidikan, nasabah mendapatkan 70 % dari hasil investasi, sedangkan asuransi syariah mendapatkan 30 %).

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>