Sediakan asuransi pensiun anda mulai sekarang

Masa pensiun akan tenang, jika anda menyiapkan dana pensiun dengan baik

Asuransi penting karena risiko tidak ada yang tahu

Anda bisa mengontrol kesehatan, tetapi tidak bisa mengontrol kecelakaan

Asuransi itu tidak wajib tetapi sangat penting

Ketika sakit dijamin anda tidak dapat mengambil asuransi

Kecelakaan tidak mengenal waktu dan tempat

Pintarlah mengelola risiko yang datang

Kami menyediakan solusi financial anda

Salah sau solusi financial dengan mengambil asuransi

 

Hukum menarik Hibah/Tabarru asuransi syariah (>)

 

Pada dasarnya menarik kembali hibah yang telah diberikan kepada orang/pihak lain adalah HARAM atau tidak diperbolehkan

“Orang yang meminta kembali sesuatu yang telah dihibahkan/diberikan kepada oranglain, adalah sama dengan seeokor anjing yang telah muntah kemudian memakan kembali muntahannya tersebut” (Mutaffaqun’ Alaih)

Namun, terdapat pengecualian dalam penarikan kembali hibah yang telah diberikan kepada orang lain, yatiu hibah orangtua terhadap anaknya.

Rasullah saw bersabda,

“Haram bagi seorang Musilm memberi sesuatu kepada oranglain kemudian memintanya kembali, kecuali pemberian ayah kepada anaknya”.

Konsep Tabarru dalam asuransi syariah

Secara sederhana, konsep tabarru dalam asuransi syariah dapat dijelaskan bahwa dana tabarru yang merupakan dana untuk saling menolong antar  sesame nasabah, tidak boleh diubah menjadi dana tijari. Misalnya, untuk biaya operasional perusahaan atau bahkan diklaim sebagai keuntungan perusahaan.

Dana tabarru, hanya boleh digunakan untuk segala hal yang langsung berkaitan dengan kepentingan nasabah, seperti klaim, cadangan tabarru dan reasuransi syariah.

Sebaliknya, dana tijari (dana perusahaan) boleh dialokasikan untuk dana tabarru jika perusahaan mengikhlaskan untuk tabarru nasabah.

Jika diklasifikasikan berdasarkan peruntukannya, premi peserta asuransi syariah terdiri dana tabarru dan dana tijari. Dana tabarru dikhususkan sebagai tolong-menolong untuk membantu nasabah yang mengalami musibah. Adapun dana tijari digunakan untuk biaya operasional perusahaan asuransi syariah. Kedua jenis dana ini harus dikelola secara terpisah antara dana tabarru dan tijari. Hal ini karena ketidakjelasan dalam pengelolaan dana akan berdampak pada rusaknya akad tersebut dan secara otomais bedampak pada rusaknya akad dalam berasuransi syariah.

Dana tabarru adalah dana milik peserta yang dibayarkan oleh nasabah melalui premi atau kontribusi. Dana ini khusus diperuntukan bagi nasabah yang mendapatkan musibah sehingga disimpan dalam akun secara khusus. Ketika diinvestasikan, hasil investasinya pun masuk kembali kedalam akun tabarru, kemudian apabila terdapat surplus tabarru yang terkumpul lebih besar dari total dana klaim dan biaya-biaya yang dibebankan atas dana tersebut dalam satu periode tertentu, surplus dana tabarru dapt dibagikan dengan cara, sebagian dikembalikan kepada nasabah sebagian dicadangkan dalam cadangan tabarru dan sebagian lainnya dialokasikan untuk perusahaan asuransi syariah. Pembagian surplus tabarru seperti ini mengikuti fatwa dewan syariah nasional MUI, No 53/DSN-MUI/III/2006 tentang akad Tabarru pada asuransi syariah dan reasuransi syariah.

Adapun penggunaan akad tijari (tujuan keuntungan) untuk transaksi yang bersifat mu’awadhah/tabaduli dalam asuransi syariah memiliki konsekuensi sebagai berikut:

  • Jumlah pembayaran harus jelas
  • Waktu pembayaran harus jelas
  • Objek yang diakadkan harus jelas, dalam jua l beli . barang yang diperjualbelikan harus jelas)

Menyalahi salah satu dari unsur tersebnut akan mengakibatkan akad mengandung ghrar. Oleh karena itu, akad menjadi batal secara hukum karena akad mu’awadhah/tabadulli mensyaratkan adanya “kepastian” dalam segala hal.. Dengan demikian, tidak ada satu pihak yang dirugikan, sementara pihak lain diuntungkan.

Masalahnya dalam asuransi, terdapat kemungkinan adanya “ketidakpastian” karena risiko merupakan sesuatu yang tidak pasti, misalnya, bisa terjadi seorang nasabah baru kali pertama membayar premi, lalu mendapatkan musibah sehingga iapun menerima hasil klaim/manfaat asuransi. Dipihak lain, nasabah yang membayar premi berkali-kali, tetapi sama sekali tidak mendapatkan manfaat sebab tidak pernah mendapatkan musibah. Dengan demikian, menggunkan akad tabaduli sangat berpotensi menjadikan akadnya fasid (rusak), bahkan batal secara hukum.

Hal tersebut berbeda dengan dana tabarru dengan ketentuan sebagai berikut.

Pada akad tabarru, tidak di isyaratkan adanya “kepastian” dalam waktu pembayaran, jumlah pembayaran dan objek yang ditransaksikan.

Tabarru satu kali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya tanpa adanya kepastian tidak menjadikan akad tabarru menjadi fasid sebagaimana jika akad tersebut bersifat tabaduli. Demikian juga dengan jumlah, satu juta, dua juta, tiga juta, dan seterusnya, tidak menjadikan akad tabarru, fasid sebagaimana terjadi dalam akad tabaduli.

Kepastian mendapatkan manfaat pun tidak menjadi syarat, apakah seseorang ada kepastian terkena musibah atau tidak adanya kepastian, tidak menjadikan akad tabarru mengandung gharar, sebagaimana jika terjadi di akad tabadulli.

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>