Asuransi dalam islam

Asuransi dalam islam

Hai Haii

Kembali dengan saya, semoga anda tidak bosan yah. Mengapa saya sering nulis tentang asuransi dan investasi ? Harapan ya semoga masyarakat indonesia semakin melek dengan peranan asuransi. Ya memang asuransi bukan segala galanya, sama halnya dengan payung atau jaz hujan bukan segala-galanya bukan ? Namun kalau lagi hujan, payung atau jaz hujan merupakan barang yang sering dicari orang.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Saya pernah lupa membawa jaz hujan, akibatnya saya kebasahan dan akhirnya batal ketemu orang. Disaat itu hujannya baru berhenti setelah 3 jam. Lama sekali hiksss

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Waktu pertama kali saya memulai profesi sebagai konsultan asuransi, saya melakukan hal yang tidak semua konsultan asuransi lakukan yaitu membeli buku-buku perencanaan keuangan dan asuransi, karena saya tidak mau menjelaskan segala sesuatu jika hanya tahu setengah-setengah akibatnya bisa menyesatkan orang lain…..

Nah salah satu buku yang pertama kali saya beli berjudul “Solusi Berasuransi”

Buku ini setebal 263 halaman karangan 4 orang yaitu :

————————————————–

Prof.Dr. K.H.Didin Hafidhuddin, MSc.

————————————————–

Seorang ulama sekaligus cendikiawan muslim, beliau  menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah.

————————————————–

Prof. Dr. Fathurrahman Djamil, M.A

————————————————–

Seorang akademisi yang berkonsentrasi dalam permasalahan hukum dan praktik ekonomi islam.

————————————————–

Dr. H.M Syafii Antonio M.Ec

————————————————–

Salah satu ikon ekonomi syariah di Indonesia yang turut membidani lahirnya bank muamalat.

———————————–

Saiful Yazan, MBA, MSC

———————————–

Beliau memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni di bidang asuransi dan manajemen

Dalam bukunya beliau-beliau mengatakan bahwa

Praktik asuransi tumbuh dalam budaya suku Arab pada zaman nabi Muhammad SAW yang disebut aqilah. Aqilah dalam dictionary of islam diterangkan jika salah satu anggota suku terbunuh oleh suku lain, keluarga korban akan dibayar sejumlah uang darah (diyat) sebagai kompensasi oleh saudara terdekat dari pembunuh.Saudara terdekat pembunuh tersebut disebut aqilah sebagai pembayar uang darah atas nama pembunuh.

AL-Aqilah mengandung pengertian saling memikul dan bertanggung jawab bagi keluarga, Dalam satu kasus tentang aqilah ini, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra :

Dari Abu Hurairah ra : ” Berselisih dua orang wanita dari suku Huzail, kemudian salah satu wanita tersebut melempar batu kepada wanita yang lain sehingga mengakibatkan wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Ahli waris dari wanita yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasullah memutuskan ganti rugi dari pembunuhan terhadap janin adalah dengan membebaskan seorang budak laki-laki atau wanita. dan kompensasi atas kematian wanita tersebut dengan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh aqilahnya.” (HR Bukhari)

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Dalam istilah Arab, asuransi dikenal dengan beberapa padanan, yaitu taka’ful, ta’min dan tadhamun. Ketiga istilah itu tersebut mengandung makna saling menanggung,saling menlindungi, dan saling menolong.

Lalu bagaimana dengan niat yang didasarkan pada perencanaan atau antisipasi terhadap musibah ? Untuk hal ini, kita lihat FIrman Allah SWT berikut .

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya:“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

 

Ayat ini menyatakan perlunya seorang muslim membuat perencanaan atas keluarga mereka, Hal ini sejalan juga dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf dalam membuat sistem proteksi untuk menghadapi kemungkinan buruk pada masa depan yang tersurat dalam Al-Qruan berikut :

وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ (٤٣) قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلامٍ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الأحْلامِ بِعَالِمِينَ (٤٤) وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ (٤٥) يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ (٤٦) قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلا قَلِيلا مِمَّا تَأْكُلُونَ (٤٧) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلا قَلِيلا مِمَّا تُحْصِنُونَ    (٤٨) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ (٤٩

43. Raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering” Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.”

44. Mereka menjawab, “(Itu) mimpi-mimpi yang kosong dan kami tidak mampu menakwilkan mimpi itu.”

45. Berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”

46. (Setelah pelayan itu bertemu dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada Kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui (takwilnya).”

47. Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.

48. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit yang menghabiskan apa yang kamu siapkan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.

49. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras anggur.”

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Ayat tersebut digunakan sebagai salah satu landasan tentang kebolehan dalam pelaksanaan asuransi berdasarkan prinsip syariah.

Baiklah, saya rasa sharing hari ini sudah cukup, saya usahakan untuk melanjutkan penjelasan asuransi dalam islam di lain waktu. Terima kasih ya sudah meluangkan waktu membaca sharing saya, saya tidak mengharapkan apresiasi apapun, saya cukup senang jika masyarakat indonesia semakin melek terhadap asuransi…

 

 

Berikan yang terbaik bagi keluarga kita

Asuransi Pendidikan

 

admin