Apakah asuransi juga mengandung upaya mengundi nasib ?

Apakah asuransi juga mengandung upaya mengundi nasib ?

Tentang asumsi mengundi nasib

Apakah asuransi juga mengandung upaya mengundi nasib ? Baiknya kita pahami definisi judi atau taruhan adalah akad diantar para pihak untuk Apakah asuransi juga mengandung upaya mengundi nasib ? Baiknya kita pahami definisi judi atau taruhan adalah akad diantar para pihak untuk taruh akan sesuatu, lalu pihak yang kalah membayar uang atau barang sejumlah tertentu yang telah disepakati. Didalamnya, memang mendapat terdapat unsur untung-untungan maisir) antara kalah dan menang.

lalu, bagaimana dengan asuransi ? Dalam bukunya Doktrin Ekonomi Islam, Afzalur Rahman menulis perbandingan antara asuransi dan judi diantara keduanya terdapat kemiripan.

  1. Terdapat Kemiripan yang sangat dekat antara kontrak asuransi konvensional dan perjudian.
  2. Keduanya, sejumlah taruhan (besarnya kontrak) dibayarkan kepada orang yang bertaruh (sejumlah besar taruhan). keduanya itu tedapat pada asuransi konvensional dan judi taruhan.
  3. Bagaimana pertaruhan (juga bahaya yang ditimbulkan dalam asuransi konvensional) benar-benar akan terjadi dan siapakah yang akan keluar sebagai pemenangnya, para pertaruh (juga dalam asuransi konvensional ) ataukah penyelanggara (pengusaha asuransi) merupakan tanda Tanya.
  4. Dalam hal tidak terjadi risiko, tidak ada yang dibayarkan kepada orang yang bertaruh (Sejumlah besarnya taruhan). Keduanya itu terdapat pada asuransi konvensional dan judi taruhan.
  5. Uang premi pada asuransi konvensional sama persis dengan uang taruhan dalam perjudian jika dikaitkan dengan mereka lakukan.
  6. Pendapatan bagi Bandar judi atau pengusaha asuransi konvensional selalu dapat dipastikan. dapun bagi petaruh (peserta asuransi) masih diragukan, mungkin menerima mungkin tidak)
  7. Secara keseluruhan, Bandar melawan penjudi, pengusaha asuransi melawan peserta asuransi selalu dipihak yang menang. Asuransi konvensional dalam pandangan islam jelas bernuansa yang disetorkan sebagai premi. Akan tetapi, ia tidak mengetahui berapa uang yang akan diterimanya apabila sebuah peristiwa yang tidak pasti malah terjadi. Dengan demikian, asuransi menjadi sebuah kesepakatan (pertaruhan) bersama untuk menanggung risiko tertentu dengan uang premi sebagai taruhannya untuk menghadapi kemungkinan rugi. Apabila peristiwa yang dipertanggungkan benar-benar terjadi, siperserta asuransi menjadi pemenang meskipun ia tidak bisa mengetahui sebeerapa besar uang yang akan diterimanya.

 

Asuransi syariah jelas dibangun dengan prinsip mengeliminasi unsur maisir (untung-untungan) sehingga dalam akad-akadnya pun tidak mengandung unsur perjudian. Apa yang perlu dipahami adalah bahwa sesuatu benar-benar sesuai dengan syariah apabila dalam implementasinya pun tidak ada hal-hal yang bertolak belakang dengan syari’i. Artinya maksud syaiah tidak boleh ditempuh dengan cara-cara haram.

 

Secara syari’I seorang kepala keluarga (Suami) diwajibkan memenuhi kebutuhan keluarganya dengan bekerja. Namun, apabila pemenuhan kebutuhan itu dilakukan dengan cara-cara haram (mencuri, korupsi, menipu), gugurlah ketetapan syari’I tersebut sehingga ia jatuh pada perbuatan haram.

admin