Sediakan asuransi pensiun anda mulai sekarang

Masa pensiun akan tenang, jika anda menyiapkan dana pensiun dengan baik

Asuransi penting karena risiko tidak ada yang tahu

Anda bisa mengontrol kesehatan, tetapi tidak bisa mengontrol kecelakaan

Asuransi itu tidak wajib tetapi sangat penting

Ketika sakit dijamin anda tidak dapat mengambil asuransi

Kecelakaan tidak mengenal waktu dan tempat

Pintarlah mengelola risiko yang datang

Kami menyediakan solusi financial anda

Salah sau solusi financial dengan mengambil asuransi

 

Akad Tijari pada asuransi syariah (.)

 

  1. Mudharabah

Ada beberapa definisi mudharabah yang ditetapkan oleh para ulama maupun pemikir islam di antaranya Afzalur Rahman dalam bukunya Economics Doctrins Of Islam yang menjelaskan mudhrabah sebagai suatu kontrak kemitraan yang berdasarkan pada prinsip bagi hasil dengan cara seseorang memberikan modalnya kepada orang lain untuk melakukan usaha memberikan modalnya kepada orang lain untuk melakukan usahanmemberikan modalnya kepada orang lain untuk melakukan usaha dan kedua belah pihak membagi keuntungan atau memikul beban kerugian berdasarkan isi perjanjian bersama. Pihak pertama, supplier atau pemilik modal disebut shahibul mal dan pihak kedua, pemakai atau pengelola atau pengusaha disebut mudharib.

 

Asal kata mudharabah diambil dai kata dharb yang berarti usaha diatas bumi. Pengelola atau pengusaha kemudian disebut mudharib yang berhak mendapatkan bagi hasil atas usaha maupun tenaganya. Selain itu, mudharib pun berhak menggunakan modal sesuai  dengan arah maupun tujuan yang dikehendaki. Alhasil timbullah akad yang disebut akad al-mudharabah yang merupakan perjanjian antara beberapa pihak, yaitu pihak pemilik modal  yang menyerahkan atau mengamabahkan sejumlah dana kepada pihak lain atau pengelola untuk menjalankan suatu aktivitas usaha.

 

Pihak pengelola berhak menetapkan arah bisnis dan manajemen opersionalnya tanpa campur tangan pihak pemodal. Konsekuensinya akad ini merupakan perjanjian profit and loss sharing sehingga terdapat kesepakatan menanggung bersama kerugian dan membagi bersama keuntungan. Hal ini berbeda dengan akad musyarakah. Pada musyrakah semua pihak berkontribusi dalam pendanaan dan berhak urut serta dalam mengelola dan mengambil keputusan strategis. Persamaannya dengan mudharabah terletak pada konsep bagi hasil usaha.

 

Apabila kita mencari landasan syar’I mudharabah, dapatlah ditemukan beberapa ayat Al-Quran yang didasarkan pada kata dharb seperti berikut ini:

 

“…….Sebagian dari mereka orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah….” (QS al-Muzammil [73]:20)

 

“Apabila telah ditunaikannya shalat,  maka bertebaranlah kamu dimuka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing) dan carilah karunia Allah.” (QS al-Jumu’ah [62]: 10)

 

Ayat-ayat tersebut menurut az-Zuhali beserta sifatnya menerangkan bahwa ada keharusan pengelolaan harta dengan kontrak mudharabah. Dalam As-Sunnah juga terdapat hadirs yang  diriwayatkan ileh Ibnu Abbas ra bahwa Sayydina Abbas bin Abdul Muthalib apabila menyerahkan harta sebagai mudharabah mensyaratkan kepada mitra usahanya agar jangan membawa hartanya menyebrang laut, usahanya agar jangan membawa hartanya menyebrang laut, menuruni lembah berbahaya, dan membeli binatang yang hidup. Jika dia melanggar aturan yang bersangkutan betangung jawab atas dana tersebut. Syarat yang diletakan paman Nabi ini disampaikan kepada Rasul  membolehkannya.

 

Ibnu Rushd dalam kitabnya Bidayah al-Mujtahid seperti dikutip Muhammad Syakir Sula, berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat diantara kaum Muslim mengenai sahnya prinsip wired atau mudharabah’”

Hal itu diamalkan sebelum islam dan islam membernarkannnya, mereka semua bersepakat bahwa hal itu merupakan keadaan ketika seseorang memberikan pihak lain modal yang pihak tersebut menggunakannya dalam perniagaan. Pengguna modal tersebut bersepakat dengan syarat-syarat bagi hasil yang disepakati kedua belah pihak, sepertiga, seperampat, atau setengahnya.

 

Al-Mudharabah dilaksanakan dengan rukun-rukun sebagai berikut:

  1. Ada mudharib atau pengelola dana
  2. Ada pemilik dana atau modal
  3. Ada usaha yang akan dibagihasilkan
  4. Ada nisbah atau pembagian keuntungan
  5. Ada ijab qabul.

Hal ini sama dengan yang disampaikan oleh Syafi’I Antonio bahwa rukun mudharabah adalah

1 ADanya pemodal

2 Adanya modal

3 Adanya pengelola

4 Adanya nisbah atau keuntungan

5 Adanya sighat (akad)

 

Al-Mudharabah dipilih sebagai akad yang digunakan oleh perusahaan asuransi syariah karena bebrapa keunggulan yang dimilikinya selain memang benar oleh syar’i. Akad ini tampak relevan dengan praktik ekonomi atau bisnis saat ini dan mengandung unsur-unsur profesionalitas. Mudharib dituntut bersikap professional karena dia merupakan wakil dari shahibul dalam berinvestasi atau bertransaksi bisnis dan sekaligus mitra terpercaya dalam pengelolaan dana.

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>