Akad-akad dalam asuransi syariah (.)

Akad-akad dalam asuransi syariah (.)

 

Kedudukan akad dalam ekonomi islam atapun ekonomi syariah sangatlah penting. Sah dan batalnya akad dalam islam akan berdampak pada hukum yang sangat krusial berkaitan dengan hak kepemiiikan suatu benda dan kebebasan berbuat dengan benda tersebut.

Akad dari sisi stimologis berarti ikatan , sambungan atau perjanjian. Adapun menurut istilah, akad adalah perikatan ijab dengan qabul yang dibenarkan syariat dan mendapatkan keridhaan kedua belah pihak yang bersepakat.

Salah satu perbedaan mendasar antara asuransi syariah dan konvensional adalah pada akad-akad perjanjian. Akad-akad dalam asuransi syariah didasarkan akad-akad sesuai dengan syari’i. AKad dalam transaksi merupakan sesuatu yang utama sehingga tanpa adanya akad ataupun akad yang tidak jelas maka transaksi dapat dianggap meragukan atau berbahaya.

Semangat Islam yang diantaranya didasarkan pada prinsip keadilan dan kebaikan mendorong umat untuk berhati-hati dalam persoalan akad ataupun menaruh perhatian penuh padanya. Hal ini diperlukan karena akad mengandung konsekuensi-konsekuensi tertentu. Untuk itu, akad yang dibuat haruslah menuju pada niat mendekatkan diri kepada Allah atau dalam istilah spiritual mengenai transaksi ekonomi adalah berbisnis dengan Allah swt.

Akad dapat dibedakan berdasarkan tujuan dan juga keabsahannya. Berdasarkan tujuannya, dua pihak dapat bersepakat dalam hal tijari, yaitu mengharapkan keuntungan setelah syarat dan rukun akad terpenuhi. Akad tijari memang mengandung unsur profit oriented, baik hal itu dilakukan dengan cara pencampuran manfaat atau dengan pertukaran manfaat.

Dua pihak juga dapat bersepakat semata-mata untuk tujuan salng menolong demi mengharap pahala dan ridha dari Allah swt. Akad tabarru dapatlah disebut mengandung non=profit oriented atau lebih pada benefit oriented. benefit yang diharapkan adalah ridha dan pahala dari Allah swt. Jenis transaksi dari akad ini diantaranya qardh, rahn, hawalah, wakalah, wad’ah, hibah, kafalah dan wakaf.

Selanjutnya sebuah akad dianggap abash atau sah apabila memenuhi syart dan rukun yang ditetapkan, karena itu terdapat tiga keabsahan akad seperti dijelaskan

admin